MELIRIK POTENSI WISATA BERNUANSA AGAMA DI BUMI HABONARON DO BONA – SIMALUNGUN
Bumi Habonaron Do Bona sebutan untuk daerah Simalungun sangat potensial dikembangkan sector Industri Pariwisata bernuansa keagamaan ( Wisata Rohani ). Paket wisata yang bisa ditata apik misalkan saja dirancang paket wisata mengikuti kebaktian di Gereja Kristen Protestan Simalungun tertua dan bersejarah pasti banyak orang tertarik mengikutinya, selain mengikuti kebaktian para tamu diajak mengunjungi makam istri pertama August Theis yang bernama Henriette br Bannier yang wafat pada tanggal 12 Juli 1909 di Pamatang Raya. Para tamu dapat mengetahui bagaimana perjuangan gigih yang dilakukan para missionar asing yang datang jauh-jauh dari benua Eropa. Perjuangan mereka sangat patut kita kenang, hargai dan dilestarikan sebaik mungkin.
Coba renungkan dan ingat!!! Bagaimana perjuangan missionar August Theis memasuki daerah kerajaan Simalungun yang dikenal masih hidup dalam kegelapan. Kita juga bangga , bahwa bumi Simalungun ada dalam peta rencana para missionar eropa tersebut.
Secara kasat mata Pemkab Simalungun tinggal invest di dunia pariwisata, kalau mau. Karena bila dikembangkan wisata bernuansa agama ribuan warga Simalungun tidak menghabiskan koceknya ke Tapanuli Utara untuk melihat / berziarah ke Salib Kasih.
Oleh karena itu mau tidak mau, kita orang Simalungun kalau mau pariwisata hidup, harus lebih dulu mengunjungi obyek wisata milik kita sendiri, kurang enak rasanya ketika mendengar guru- guru di Simalungun membawa siswa/I nya bolak-balik pergi ke Salib Kasih ( Tapanuli Utara ), dan tak ketinggalan para pemuda-pemudi gereja , ini lagi trend saat ini , sementara ke Haranggaol atau ke Tigaras ( Start awal missionar memasuki daerah Simalungun ) jarang atau tidak pernah sama sekali di kunjungi.
Mungkin kita harus banyak belajar dari orang Bali yang memiliki seribu pura, karena hasil penelitian dan pantauan penulis tingkat kunjungan orang Bali ke Sumatera khususnya ke Bumi Habonaran Do Bona ini sangatlah minim, ini jadi satu pertanyaan, Kenapa mereka nggak mau datang? Mungkin saja mereka tidak mau berkunjung karena hitung punya hitung rupiah mereka akan tumpah dan mengalir di Simalungun, kalaupun mereka datang ke Sumatera hanya didasari karena ada bisnis atau kerja, itupun kalau mereka mau.
Sekarang, Ayo ke Simalungun!!!!
Disini sudah ada berdiri kokoh “ Salib Putih berukuran besar “ sebagai monumen peringatan bahwasannya disini start awal para missionaris menginjakkan kakinya untuk pertama kali menelusuri harangan ganjang Simalungun sampai ke desa-desa. Namanya TIGARAS, letaknya persis dibibir pantai Danau Toba dan menghadap pulau Samosir.
Akses transportasi ke Tigaras ini, tidaklah sulit mobil roda dua dan empat sudah bisa masuk serta obyek-obyek wisata penunjang disekitar Tigaras sudah banyak, karena sebelum ke Tigaras pun kita bisa singgah sejenak di kaki Dolog Simarjarunjung dan terus menelusuri Sipintuangin, dari Sipintuangin kita beranjak beberapa meter saja sudah bisa menyaksikan hamparan luas Danau Toba , Pulau Tao dan Pulau Samosirnya. Dan Tak Kalah pentingnya disebelah timur Tigaras bisa kita kunjungi Tanjung Unta ( Lihat: Tanjung Unta Nasibmu Kini – Majalah AB beberapa bulan yg lalu ) TJ ini hanya beberapa ratus meter saja dari Tigaras serta tak kalah penting ada dua gua yang memiliki kekayaan batu stalagtit dan stalagnit.
Menjadikan Kabupaten Simalungun menjadi salah satu Obyek Wisata bernuansa Religi memang tidaklah segampang menutup mata didalam air, tapi butuh perhatian semua pihak khususnya pemda setempat, tapi kalau pihak pemerintah tidak mau tahu apakah kita masyarakat yang langsung terlibat tinggal diam???? Saya kira tidak. Kita tidak mau uang kita mengalir ke tempat lain sementara daerah kita masih kekurangan
Bumi Habonaron Do Bona sebutan untuk daerah Simalungun sangat potensial dikembangkan sector Industri Pariwisata bernuansa keagamaan ( Wisata Rohani ). Paket wisata yang bisa ditata apik misalkan saja dirancang paket wisata mengikuti kebaktian di Gereja Kristen Protestan Simalungun tertua dan bersejarah pasti banyak orang tertarik mengikutinya, selain mengikuti kebaktian para tamu diajak mengunjungi makam istri pertama August Theis yang bernama Henriette br Bannier yang wafat pada tanggal 12 Juli 1909 di Pamatang Raya. Para tamu dapat mengetahui bagaimana perjuangan gigih yang dilakukan para missionar asing yang datang jauh-jauh dari benua Eropa. Perjuangan mereka sangat patut kita kenang, hargai dan dilestarikan sebaik mungkin.
Coba renungkan dan ingat!!! Bagaimana perjuangan missionar August Theis memasuki daerah kerajaan Simalungun yang dikenal masih hidup dalam kegelapan. Kita juga bangga , bahwa bumi Simalungun ada dalam peta rencana para missionar eropa tersebut.
Secara kasat mata Pemkab Simalungun tinggal invest di dunia pariwisata, kalau mau. Karena bila dikembangkan wisata bernuansa agama ribuan warga Simalungun tidak menghabiskan koceknya ke Tapanuli Utara untuk melihat / berziarah ke Salib Kasih.
Oleh karena itu mau tidak mau, kita orang Simalungun kalau mau pariwisata hidup, harus lebih dulu mengunjungi obyek wisata milik kita sendiri, kurang enak rasanya ketika mendengar guru- guru di Simalungun membawa siswa/I nya bolak-balik pergi ke Salib Kasih ( Tapanuli Utara ), dan tak ketinggalan para pemuda-pemudi gereja , ini lagi trend saat ini , sementara ke Haranggaol atau ke Tigaras ( Start awal missionar memasuki daerah Simalungun ) jarang atau tidak pernah sama sekali di kunjungi.
Mungkin kita harus banyak belajar dari orang Bali yang memiliki seribu pura, karena hasil penelitian dan pantauan penulis tingkat kunjungan orang Bali ke Sumatera khususnya ke Bumi Habonaran Do Bona ini sangatlah minim, ini jadi satu pertanyaan, Kenapa mereka nggak mau datang? Mungkin saja mereka tidak mau berkunjung karena hitung punya hitung rupiah mereka akan tumpah dan mengalir di Simalungun, kalaupun mereka datang ke Sumatera hanya didasari karena ada bisnis atau kerja, itupun kalau mereka mau.
Sekarang, Ayo ke Simalungun!!!!
Disini sudah ada berdiri kokoh “ Salib Putih berukuran besar “ sebagai monumen peringatan bahwasannya disini start awal para missionaris menginjakkan kakinya untuk pertama kali menelusuri harangan ganjang Simalungun sampai ke desa-desa. Namanya TIGARAS, letaknya persis dibibir pantai Danau Toba dan menghadap pulau Samosir.
Akses transportasi ke Tigaras ini, tidaklah sulit mobil roda dua dan empat sudah bisa masuk serta obyek-obyek wisata penunjang disekitar Tigaras sudah banyak, karena sebelum ke Tigaras pun kita bisa singgah sejenak di kaki Dolog Simarjarunjung dan terus menelusuri Sipintuangin, dari Sipintuangin kita beranjak beberapa meter saja sudah bisa menyaksikan hamparan luas Danau Toba , Pulau Tao dan Pulau Samosirnya. Dan Tak Kalah pentingnya disebelah timur Tigaras bisa kita kunjungi Tanjung Unta ( Lihat: Tanjung Unta Nasibmu Kini – Majalah AB beberapa bulan yg lalu ) TJ ini hanya beberapa ratus meter saja dari Tigaras serta tak kalah penting ada dua gua yang memiliki kekayaan batu stalagtit dan stalagnit.
Menjadikan Kabupaten Simalungun menjadi salah satu Obyek Wisata bernuansa Religi memang tidaklah segampang menutup mata didalam air, tapi butuh perhatian semua pihak khususnya pemda setempat, tapi kalau pihak pemerintah tidak mau tahu apakah kita masyarakat yang langsung terlibat tinggal diam???? Saya kira tidak. Kita tidak mau uang kita mengalir ke tempat lain sementara daerah kita masih kekurangan
No comments:
Post a Comment